Seminar Implementasi Perawatan Paliatif STIKES Bali Undang Narasumber Internasional

Seminar Implementasi Perawatan Paliatif STIKES Bali Undang Narasumber Internasional

DENPASAR-Fajar Bali

Sebagai perguruan tinggi kesehatan favorit, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bali, telah menerapkan kurikulum yang disusun oleh Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia. Salah satunya peserta didik STIKES Bali mendapatkan mata kuliah Paliative Care. Namun untuk menambah wawasan mahasiswa, STIKES Bali mengadakan internasional bertajuk Paliative Care Its Implementation in The Curriculun and Clinical Practice' di Convention Halls, STIKES Bali, Denpasar, Selasa (8/5).

Seminar yang diikuti ratusan mahasiswa keperawatan, jajaran dosen dan para praktisi kesehatan itu, mendatangkan pembicara dari Thailand, Jepang, dan Indonesia. Di antaranya, Nakamura Satoki, Panta Apiruknapanond, PhD., RN., Asst. Prof. Dr. Jintana Artsanthia (Dr. P.H.NP), Dr. Laiad Jamjan, RN., dr. Tjokorda Gde Dharmayuda, Sp. Pd.KHOM., dan pembicara internal STIKES Bali AAA Yuliati Darmini, S.Kep. Ns. MNS. Usai seminar, dilanjutkan workshop dengan 50 peserta untuk lebih memfokuskan pada implementasi perawatan paliatif di kurikulum pendidikan dan praktik.

Perawatan paliatif adalah perawatan yang bisa didapatkan para pasien yang menderita penyakit kronis dengan stadium lanjut, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Peningkatan hidup dilakukan dengan cara pendekatan dari sisi psikologis, psikososial, mental serta spiritual pasien, sehingga membuat pasien lebih tenang, bahagia, serta nyaman ketika menjalani pengobatan. Demikian dikatakan Ketua STIKES Bali I Gede Putu Darma Suyasa, SKp, MNg, PhD, sebelum membuka seminar.

Menurutnya, lulusan STIKES Bali harus mempunyai kemampuan kompleks antara kecerdasan, mental, sikap dan soft skill. Ia berharap, mahasiswanya mampu menyerap ilmu tentang perawatan paliatif dari narasumber yang sarat pengalaman tersebut. Perawatan paliatif ini belum terlalu menyentuh semua pasien di Indonesia. Meski telah ada ketentuannya, kata Darma Suyasa.

Sementara itu, pembicara internal dari STIKES Bali AAA Yuliati Darmini, S.Kep. Ns. MNS., menyatakan hal senada. Di Indonesia, kata dia, sebenarnya telah ada ketentuan dari Kementerian Kesehatan yang menyatakan bahwa harus ada penerapan perawatan paliatif untuk beberapa jenis penyakit serius. Namun sampai saat ini memang pelaksanaannya masih terhambat dengan berbagai hal sehingga belum ada perawatan paliatif yang maksimal yang bisa diterima pasien di rumah sakit.

Walaupun sampai saat ini perawatan paliatif seringnya dilakukan pada pasien kanker, namun sebenarnya ada beberapa penyakit yang juga membutuhkan perawatan ini, seperti alzheimer, demensia, kanker, penyakit kardiovaskuler (termasuk dengan serangan jantung), sirosis, penyakit paru obstruktif kronis, diabetes, HIV/AIDS, gagal ginjal, Multiple Sclerosis, Parkinson, dan TBC. Sedangkan untuk penyakit yang dialami oleh anak-anak, yaitu kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, sirosis, ganggguan pada sistem imunitas, HIV/AIDS, meningitis, penyakit ginjal, dan masalah pada sistem saraf.

Layanan paliatif sampai tahun 2007 masih dirasakan belum memnyeluruh terhadap pasien. Mulai tahun 2007, atas dasar pertimbangan, perawatan faliatif diterapkan. Artinya tidak hanya bagaimana menyembuhkan pasien, tetapi bagaimana meningkatkan kualitas hidup mereka, ujar AA Yuliati.

Kepeawatan faliatif, lanjut dia, harus diiintegrasikan lebih awal pada pasien. Sehingga masalah pasien seperti fisik, psikososisal, dan sosial bisa diatasi. Perawatan paliatif ini menyangkut pendampingan sebelum meninggal, bagaimana kita menyiapkan pasien sebelum dia meniggal. Kami di pendidikan wajib menyiapkan perawat kami yang sudah tergabung dalam Asosiasi Pendidikan Ners Indonesia, kata AA Yuliati memungkasi.
==2==