Wisuda Sarjana Keperawatan STIKes Bali

Wisuda Sarjana Keperawatan STIKes Bali

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Bali mewisuda 41 sarjana keperawatan di Convention Hall, STIKes Bali, Renon, Denpasar, Kamis (2/3) kemarin. 95 persen atau 39 wisudawan dinyatakan lulus dengan predikat pujian, dan lima persen atau dua wisudawan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. I Nyoman Widiadnyana dan I Gusti Agung Kumala Dewi menjadi wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) sempurna 4.00, selanjutnya Ni Putu Septi Widayani berada di urutan ketiga dengan IPK 3.96.

Ketua STIKes Bali I Gede Putu Darma Suyasa, SKp.,MNg.,PhD., di sela wisuda menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan. Ia tak ingin wisudawan larut dalam kegembiraan, sebab selanjutnya, mereka dihadapkan dengan beban berat karena masyarakat menaruh harapan besar kepada mereka. “Sebagai sarjana keperawatan, kami harap, kalian mampu mempersembahkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional kalian bagi masyarakat, bangsa dan negara,” harapnya.

Darma Suyasa yang baru satu bulan menjabat ketua ini menambahkan, STIKes Bali telah melakukan berbagai terobosan disegala lini baik dari akreditasi institusi dan program studi (prodi), di bidang penelitian dibuktikan tahun 2016 STIKes Bali meraih hibah penelitian dari Dikti, bidang pengabdian kepada masyarakat dibuktikan dengan menandatangai sejumlah MoU dengan instansi terkait, bidang pengembangan tenaga dosen dibuktikan dengan sejumlah dosen telah mengikuti pendidikan magister di beberapa universitas negeri di Indonesia, bahkan hingga ke national Taipei University of Nursing and Healt Sciences di Taiwan.

Dalam bidang pertukaran mahasiswa dan dosen, kata dia, STIKes Bali telah melakukan kerjasama dengan tujuh Faculty of Nursing di Thailand, Mahidol University, Sint Louis Collage, Boromarajonani Colage of Nursing Vajiranovarat, Bangkok, Thailand, Ceng Kung University Taiwan, Yayasan Bina Mandiri ASEAN dan Hapinesu Jepang. “Kami juga telah melakukan proses dari sekolah tinggi menjadi institut. Tinggal menungu rekomendasi dari Koordinator Kopertis Wilayah XIII,” terangnya.

Proses dari sekolah tinggi menjadi institut, sebelumnya sempat dinyatakan oleh Ketua YPPLPK Drs. Ida Bagus Arka. Menurutnya, cara mengelola sebuah lembaga salah satunya harus dinamis, artinya harus ada perubahan positif dari waktu ke waktu. Ditambahkan IB Arka, STIKes Bali membuka prodi D IV Keperawatan Anastesiologi. “Penambahan prodi D IV Anastesiologi yang pertama di Indonesia, dan meningkatkan status kelembagaan adalah bukti STIKes Bali berjalan dinamis.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Kopertis Wilayah XIII Bali, NTB dan NTT Prof. I Negah Dasi Astawa berharap, lulusan STIKes Bali jangan hanya terpaku dengan prinsip ‘harus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS)’. Ia mengimbau, para lulusan menjadi wirausaha dan tidak memilih-milih pekerjaan. Menurutnya, yang terpenting adalah menggali pengalaman terlebih dahulu.  “Misalnya ya, sarjana keperawatan bikin usaha warung makan, kan hebat itu, makanannya pasti lebih steril,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.